Conditional Behavior dan Ramadhan
Conditional behavior yang dimaksud penulis adalah pengkondisian (treatment) untuk menuntun perilaku seseorang pada model tertentu.
Ramadhan merupakan saat
berlangsungnya upaya pengkondisian (sebulan penuh) bagi mukmin agar ia
bisa sampai pada "la'allakum
tattaquun". Takwa merupakan model manusia paripurna
dari sudut pandang Sang Khalik.
Puasa yang dilakukan bulan ramadhan sebagai treatment pengkondisian (terutama) kemampuan pengendalian diri pada akses kebutuhan
dasar (basic need). Kebutuhan dasar berupa pemenuhan kebutuhan fisik:
makan, minum, termasuk asupan nutrisi lainnya, juga kebutuhan psikologis
hubungan suami istri (diantaranya) dalam waktu tertentu (during conditional).
Pengendalian diri yang dilakukan selama satu bulan penuh, jika dilakukan dengan penuh kesadaran dan pemahaman, serta sesuai dengan SOP (Standar Operasional Prosedur) maka ini akan menjadi behavior (perilaku) dalam keseharian tak terkecuali after conditioning.
Pelaksanaan puasa yang sesuai SOP terkontrol oleh adanya keyakinan akan reward dan punish, sesuai kualitas pelaksanaannya.
Dalam interaksi sosial, termasuk pada medsos, terkait dengan ujaran baik yang tertulis maupun terucap sedikit banyak mencerminkan kualitas pemahaman puasa sebagai treatment pengkondisian behavior. Maka kita bisa menilai contain yang kita tuangkan pada medsos dengan mengacu pada referensi (diantaranya):
1. Muslim yang sempurna adalah, yang muslim lainnya (orang disekitarnya) selamat dari gangguan lidah dan tangannya. (HR. Bukhari)
2. Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri. (HR. Bukhari dan Muslim)
4. ...orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang... QS. 3:134
Dengan demikian pada kualitas treatment yang lebih baik lagi, kemampuan pengendalian atas basic need akan "menuntun" pada control emosi dan pengendalian perilaku secara keseluruhan atas dasar nilai takwa. Itu semua sebagai implikasi after conditioning Ramadhan Mubarak: "la'allakum tattaquun".
Waallhu'alam.
Penulis: Emris
Artikel Lain:
Pengendalian diri yang dilakukan selama satu bulan penuh, jika dilakukan dengan penuh kesadaran dan pemahaman, serta sesuai dengan SOP (Standar Operasional Prosedur) maka ini akan menjadi behavior (perilaku) dalam keseharian tak terkecuali after conditioning.
Pelaksanaan puasa yang sesuai SOP terkontrol oleh adanya keyakinan akan reward dan punish, sesuai kualitas pelaksanaannya.
Dalam interaksi sosial, termasuk pada medsos, terkait dengan ujaran baik yang tertulis maupun terucap sedikit banyak mencerminkan kualitas pemahaman puasa sebagai treatment pengkondisian behavior. Maka kita bisa menilai contain yang kita tuangkan pada medsos dengan mengacu pada referensi (diantaranya):
1. Muslim yang sempurna adalah, yang muslim lainnya (orang disekitarnya) selamat dari gangguan lidah dan tangannya. (HR. Bukhari)
2. Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri. (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia
tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga. (HR.
Ath Thabrani)
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy
Sumber https://rumaysho.com/469-jangan-biarkan-puasamu-sia-sia.html
Sumber https://rumaysho.com/469-jangan-biarkan-puasamu-sia-sia.html
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy
Sumber https://rumaysho.com/469-jangan-biarkan-puasamu-sia-sia.html
Sumber https://rumaysho.com/469-jangan-biarkan-puasamu-sia-sia.html
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy
Sumber https://rumaysho.com/469-jangan-biarkan-puasamu-sia-sia.html
Sumber https://rumaysho.com/469-jangan-biarkan-puasamu-sia-sia.html
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy
Sumber https://rumaysho.com/469-jangan-biarkan-puasamu-sia-sia.html
Sumber https://rumaysho.com/469-jangan-biarkan-puasamu-sia-sia.html
4. ...orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang... QS. 3:134
Dengan demikian pada kualitas treatment yang lebih baik lagi, kemampuan pengendalian atas basic need akan "menuntun" pada control emosi dan pengendalian perilaku secara keseluruhan atas dasar nilai takwa. Itu semua sebagai implikasi after conditioning Ramadhan Mubarak: "la'allakum tattaquun".
Waallhu'alam.
Penulis: Emris
Artikel Lain:
- Ramadhan dan Teori Pengkondisian
- Ramadhan, Balon Udara, Wawasan Berpikir
- Prisma Mendispersi Putih Benderaku
- Ramadan dan Pilpres

Comments
Post a Comment