Ramadhan, Balon Udara Dan Wawasan Berpikir
Ramadhan berarti Panas
Ramadan berasal dari akar kata bahasa Arab ramiḍa atau ar-ramaḍ, yang berarti panas. Dalam ilmu pengetahuan, Panas adalah salah satu bentuk energi yang mampu mengubah wujud atau bentuk materi yang bersentuhan dengannya.
Udara adalah satu wujud materi berbentuk gas. Jika udara dikenai panas (dipanaskan) akan memuai (mengembang). Demikian udara yang berada dalam balon udara, yang dipanaskan dengan burner lalu memuai dan mengembang. Saat udara dalam balon udara memuai maka berat jenis balon udara tersebut persatuan volumnya makin ringan, tekanan udaranya juga semakin lemah.
Dengan berat jenis yang lebih ringan dari udara di luar balon, dan tekanan udara lebih lemah dari tekanan udara di luar balon, maka kondisi ini memungkinkan balon udara tersebut “terangkat” ke atas oleh udara yang ada di sekeliling balon tersebut. Seperti halnya minyak yang terapung pada air, yang terjadi karena masa jenis minyak lebih ringan dari masa jenis air sehingga minyak terapung di atas permukaan air. Demikian yang terjadi dengan balon udara hingga ia bisa terbang mengudara.
Jiwa yang dipanaskan oleh ramadhan sudah sepantasnya jika ia kemudian "terangkat" pada posisi yang lebih tinggi, lebih mulia.
Luasnya Pandangan Dipengaruhi Posisi Memandang
Saat kita naik balon udara, maka kita akan menyaksikan luas jangkauan penglihatan berdasarkan ketinggian yang berbeda. Semakin tinggi posisi, semakin luas jangkauan penglihatan kita. Semakin banyak objek yang bisa kita lihat dibandingkan dengan saat posisi kita berada pada posisi yang lebih rendah. Seterusnya demikian, semakin tinggi, maka jangkauan pandangan semakin luas. Namun bersamaan dengan itu, objek yang kita lihat dengan ukuran yang relatif kecil, semakin kita jauh ke atas maka detail kenampakannya semakin tidak jelas, bahkan pada ketinggian tertentu objek teresbut sudah tak terlihat lagi. Ini juga menyadarkan kita begitu luas kita memandang, betapa luas juga hal-hal yang belum kita ketahui.
Ini artinya semakin tinggi kemulian akhlak, menunjukan bahwa tingginya kemuliaan itu terbangun atas luasnya pengetahuan yang dimiliki. Lalu atas tingginya kemulian dan pengetahuan itu pulalah akan menyadari akan adanya keterbatasan pada detail-detail tertentu. Karenanya "kesombongan" atas dasar .pengethuannya seolah tak ada tempat bagi yang berakhlak mulia.
Dari sudut pandang muslim, kemulian akhlak menunjukan kesempurnaan iman seseorang. “Orang mukmin yang paling sempurna imannya
adalah yang paling baik akhlaknya...
HR. Abu Hurairah RA. Lalu dalam ramadhan, bagi yang beriman diwajibkan berpuasa, sebagai sarana mencapai derajat takwa dan menjadikannya pribadi yang paling mulia.
“Hai orang-orang yang
beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang
sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)
Baca selengkapnya https://muslim.or.id/4439-tafsir-surat-al-baqarah-183-berpuasa-menggapai-takwa.html
“Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana
diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)
Baca selengkapnya https://muslim.or.id/4439-tafsir-surat-al-baqarah-183-berpuasa-menggapai-takwa.html
Baca selengkapnya https://muslim.or.id/4439-tafsir-surat-al-baqarah-183-berpuasa-menggapai-takwa.html
“... Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara
kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu...” (QS. Al Hujurat: 13).
Kesimpulan:
Seorang yang berpuasa ramadhan atas dasar iman, yang termotivasi meraih mutakin, ia menyadari:
- Ramadhan yang bermakna panas akan memotivasi gairah untuk terus meningkatkan pengetahuan karena dengan itu manusia akan memiliki kearifan dalam bersikap. Memahami perbedaan pandangan oleh karena luas pandangan yang berbeda.
- Mukmin yang berpuasa ramadhan akan berhati-hati saat "bersikap", karena ia sadar, semakin luas wawasan yang milikinya, semakin luas hal yang belum ia ketahui. Terlebih yang merasa betapa sempitnya lingkup yang ia ketahui, maka ia akan berhati-hati dalam bertindak dan bersikap. Ia akan dibayangi kekhawatiran bahwa apa yang ia lakukan atas ketidaktahuannya itu dapat membawanya ke arah yang tidak diridhai-Nya. Inilah konsep takwa yang lahir atas puasa Ramadhan.Waallhu'alam.Penulis: EmrisArtikel Terkait
“Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana
diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)
Baca selengkapnya https://muslim.or.id/4439-tafsir-surat-al-baqarah-183-berpuasa-menggapai-takwa.html
Baca selengkapnya https://muslim.or.id/4439-tafsir-surat-al-baqarah-183-berpuasa-menggapai-takwa.html

Comments
Post a Comment