Thank You Allah Maher Zain
Maher Zain, penyanyi kelahiran Lebanon yang besar di Swedia itu, berbagi
pengalaman religius lewat lagu. Lewat ”Thank You Allah” dan ”Insha Allah” yang
populer di sejumlah negara, termasuk Indonesia.”Thank You Allah” yang direkam
tahun 2009.
I was so far from you
Yet to me you were always so close
I wandered lost in the dark
I closed my eyes toward the signs
You put in my way/I walked everyday
Further and further away from you/Oo..
Allah, you brought me home
I thank You with every breath I take
Alhamdulillah, Alhamdulillah
All praises to Allah...
Lagu tersebut lahir dari pengalaman pribadi yang menandai perubahan arah
hidupnya. ”Itu semua bermula ketika saya mulai lagi menjalankan ibadah. Sebelum
itu saya tidak shalat, jauh dari Islam, jauh dari Allah,” kata Maher dalam sebuah
perbincangan di Jakarta.
”Dalam lagu itu saya mengungkapkan perasaan saya terhadap Allah. Dia
membimbing saya sepanjang waktu, tapi saya memalingkan muka dari-Nya dan
menutup mata pada petunjuk-petunjuk-Nya,” kata Maher. ”Alhamdulillah setelah
beribadah saya mulai melihat segala sesuatu dari perspektif yang berbeda. Saya mulai
menengok ke belakang, ternyata selama ini Allah yang membimbing saya,” katanya
melanjutkan. ”Lewat lagu, saya ingin
mencoba untuk menyampaikan pesan Islam. Bagi saya Islam itu jalan hidup,
tuntunan hidup. Islam mengajarkan persaudaraan, perdamaian, cinta, dan segala
hal yang Anda perlukan dalam hidup. Jadi, banyak hal yang bisa kita nyanyikan,”
kata Maher yang menyebut lagunya sebagai ”lagu Islami.”
Maher adalah insinyur aeronautika yang menurut pengakuannya lebih betah
bernyanyi ketimbang menggeluti bidang penerbangan. Maher menuturkan, minat dan
hasratnya memang ke musik. Ia kuliah dalam bidang ilmu aeronautika karena
pengaruh teman yang menyarankan bahwa teknik penerbangan sangat menarik. ”Saya
tidak tahu apa yang harus saya pilih. Tapi ketika saya studi aeronautika, saya
tetap bermain musik untuk kesenangan. So the music was always there,” katanya.
Pada akhirnya, hasrat akan musik mengantarkan Maher pada profesi di bisnis
musik di New York. Sampai pada satu titik ia memutuskan mundur sebagai pelaku
industri musik dan memilih berdakwah lewat musik. ”Saya merasa banyak hal yang
harus saya bagikan dan itu bisa saya lakukan lewat musik. Saya banyak belajar
dari pekerjaaan lama saya (di bisnis musik). Saya telah banyak belajar
memproduksi, membuat lagu yang populer. Tapi, pada saat yang bersamaan saya
juga ingin menyampaikan pesan,” katanya. Lagu-lagu Maher dikemas dalam musik
pop dengan aroma Timur Tengah. ”Karena saya aslinya orang Lebanon, jadi saya
masih mempunyai flavour Timur Tengah. Akan tetapi, saya tumbuh di Swedia. Saya
merasa seperti western moslem,” katanya.
Dan rupanya ia berhasil. Bahkan, lagu ”Insha Allah” dan ”Thank You
Allah” populer sampai Indonesia. Album Thank You Allah yang diedarkan oleh Sony
Music di Indonesia memuat lagu ”Insha Allah” yang dibawakan bersama Fadly,
vokalis band Padi. Ia juga membawakan lagu dalam bahasa Indonesia ”Sepanjang
Hidup.” Maher cukup populer di
Indonesia, sampai-sampai terbentuk komunitas Maher Zain Indonesia Fans Club. Ia
sama sekali tak membayangkan lagulagunya bisa diterima di Indonesia. ”Saya
hanya membayangkan lagu-lagu saya akan diterima di Timur Tengah atau sedikit di
Eropa. Tapi, alhamdulillah ternyata juga sampai Malaysia, Singapura, dan
sekarang di Indonesia.” Bagi Maher, bukan popularitas itu yang terpenting,
melainkan bagaimana lewat lagu-lagu itu ia bisa berbagi pengalaman religius.
Selain itu, lewat lagu Maher juga ingin berbagi pengalaman kepada kaum muda
yang mengalami semacam disorientasi identitas.
”Saya tahu bahwa banyak kaum muda di Barat yang mengalami kesulitan dan
bingung akan identitas mereka. Mereka kehilangan identitas sebagai Muslim. Saya
pikir, saya bisa memberi mereka inspirasi agar mereka bangga terhadap Islam dan
merasa nyaman sebagai Muslim,” katanya.
Comments
Post a Comment