Added Value Dari Suatu Perubahan
“Rakyat menghendaki
adanya perubahan”, demikian kalimat yang sering kita dengar membayangi pilpres
2019. Lalu atas nama perubahan muncul hashtag: #2019 Ganti
Presiden.
Perubahan (pergantian) tentu bukanlah tujuan, melainkan bagian dari proses
untuk mencapai suatu kondisi yang lebih baik. Dengan
demikian yang terpenting dari perubahan adalah adanya added value (nilai
tambah). Nilai tambah artinya indikasi yang menunjukan
adanya perubahan positif dari satu kondisi yang menjadi
lebih baik dari sebelumnya. Namun atas dorongan “lapar dan dahaga” tidak jarang
orientasinya “yang penting ada perubahan”. Terkadang tidak peduli atau tidak
diperhitungkan dengan baik kondisi yang mungkin terjadi oleh adanya perubahan
tersebut, termasuk ekses yang timbul saat proses itu terjadi.
Namun tulisan ini tidak bermaksud membahas tentang perubahan terkait
hashtag tersebut di atas, tetapi mencoba menggali makna dari suatu perubahan fenomena yang ada di alam sekitar kita.
Alam Menginspirasi
Alam kadang menginspirasi manusia untuk melakukan suatu tindakan. Bukanlah hal
baru, sejak jaman “generasi awal” keturunan Nabi Adam
AS alam mengajarkan suatu hal pada manusia.
“Kemudian Allah menyuruh seekor
burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil)
bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya[1].
Berkata Qabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat
seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku
ini?" Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal”.
QS.5:31
|
[1]. Dipahami dari ayat ini bahwa manusia banyak
mengambil pelajaran dari alam dan jangan segan-segan mengambil pelajaran dari
yang lebih rendah tingkatan pengetahuannya. (Al Quran dan Tafsir, Depag RI).
|
Demikian beberapa perubahan yang ada di alam seakan memberikan inspirasi
bagaimana sebuah perubahan itu membawa ke arah manfaat yang lebih luas lagi.
Beberapa fenomena alam yang terjadi, diantaranya:
Metamorfosis Ulat menjadi Kupu-kupu.
Daur hidup kupu-kupu dimulai dari telur. Telur kupu-kupu biasanya berada di
permukaan daun. Telur kemudian menetas menjadi ulat. Ulat itu akan makan selama
berhari-hari, lama kelamaan ulat akan behenti makan, dan mulai berubah menjadi
kepompong. Masa kepompong ini berlangsung selama berhari-hari (14-16 hari).
Jika telah sempurna, kupu-kupu keluar dari kepompong tersebut dan menjadi
Kupu-kupu dewasa. Selanjutnya kupu kupu berkembang biak dengan bertelur. Dari
telur itu, proses metamorfosis dimulai lagi.
Jika kita anggap “kepompong” adalah satu tahap proses perubahan dari ulat
menjadi bentuk baru makhluk bersayap (kupu kupu), maka penilaian atas perubahan
tersebut mengacu pada sebelum dan sesudah menjadi kepompong. Sebelum menjadi
kepompong ulat sebagai pemakan daun yang lahap. Setelah melewati masa “kepompong” berubah menjadi makhluk bersayap,. perubahan yang prosesnya dilakukan saat
ia berada dalam kepompong, ketika ia mengisolasi diri dari interaksi dengan
lingkungannya, saat berpuasa selama 14-16 hari. Kini sebagai kupu-kupu memberi
manfaat bagi tanaman.Seperti halnya lebah, kupu kupu juga membantu bunga
dalam proses penyerbukan, walau kupu-kupu tidak dapat membawa serbuk sari
sebanyak yang dibawa lebah, namun
kupu-kupu memiliki kelebihan, ia bisa terbang lebih jauh dari lebah. Kupu-kupu dapat membantu menyingkirkan
serangga yang dapat mengancam hidup tanaman yaitu serangga kecil (kutu) yang
sering memakan getah tanaman serta yang menularkan virus dari tanaman ke
buah-buahan dan sayuran. Nyata bedanya sebelum dan sesudah adanya perubahan
dari ulat menjadi kupu-kupu.
________________________
By Emris

Comments
Post a Comment