RAMADHAN BULAN KASIH SAYANG




RAMADHAN BULAN KASIH SAYANG

Memberikan sesuatu yang berharga sering dijadikan sebagai ungkapan, aktualisasi atau perwujudan kasih sayang dari pemberi kepada penerima. Umumnya orang tua, ingin “memberi” anaknya pendidikan yang baik, bahkan (jika pertimbangannya hanya keinginan), orang tua selalu ingin memberi apapun yang anak kita butuhkan sebagai wujud kasih sayang.

Allah SWT yang Maha Penyayang, begitu sayang pada hamba-Nya, terutama mereka yang beriman. Sebagai wujud kasih sayang-Nya itu (diantaranya) maka pada bulan ramadhan Allah akan membagikan gelar “muttaqin” (orang yang bertakwa). Karena dengan gelar “bertakwa” itulah kemudian hidup di alam kekal akan mendapatkan tempat yang mulia.

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir).  Qs. al-Hijr : 45
“... surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” ( Qs. Ali ‘Imran : 133 ).

Sebagai orang tua, karena sayangnya, ia sangat berkeinginan “memberi” gelar sarjana pada anaknya. Tentu sang anak tidak serta merta mendapat pemberian gelar tersebut, melainkan ia musti mengikuti proses pendidikan yang berjenjang hingga gelar sarjana tersebut ia peroleh.

Lalu ramadhanpun dijadikan sebagai momentum “bimbingan” untuk meraih gelar muttaqin (orang yang bertakwa). Takwa adalah kemampuan mengendalikan diri untuk tidak melakukan hal yang  tidak dibolehkan, dan melakukan apa yang diperintahkan. Dan apa yang dilakukan dan tidak itu, secara sadar hanya didasari oleh keinginan mendapatkan ridha dan kasih sayang-Nya semata.

Untuk memastikan bahwa setiap mukmin (yang beriman) memiliki peluang yang sama mendapat gelar muttaqin sebagai bentuk kasih sayang Nya,  maka orang yang beriman diwajibkan mengikuti "bimbingan-Nya". Bimbingan pengendlian diri itu adalah berpuasa ramadhan.      

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, Qs. 2:183.

Puasa pada tingkatan tertentu, membimbing kita untuk berempati kepada sesama. Kewajiban menunaikan zakat fitrah seperti “simbol” nyata dari pelatihan mengasah empati tersebut. Dampak keseluruhan dari upaya total pengendalian diri, menunaikan zakat (fitrah), anjuran melakukan kebaikan kepada sesama saat ramadhan, termasuk bersodakoh, dan lain-lain, pada gilirannya menciptakan pribadi yang peka dalam interaksi sosial. Pada saat bersamaan tumbuh rasa saling menyayangi antar sesama. 
Kondisi ini pulalah yang kemudian membuka pintu kasih sayang dari langit. ”irhamman fil ardhi yarhamka man fissamaa” artinya ”Sayangilah yang ada di bumi, niscaya Yang ada di langit akan menyayangimu.” (HR. At Thabrani). 

Diikutsertakannya kita dalam bimbingan puasa ramadhan, dengan dianugerahi kesehatan, kemampuan dan kekuatan untuk berpuasa, hingga kita berpeluang meraih predikat muttaqin, adalah bagian dari wujud kasih sayang-Nya. 

Tinggal bagaimana kita menyikapi peluang tersebut, akankah kita berupaya tuk meraih peluang tersebut sebagai manifestasi syukur kita atas kesempatan yang dianugrahkan Allah SWT? Atau, tanpa sadar kita menodai kesucian ramadhan dan gagal meraih gelar "muttaqin"?

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.”
(HR. At Thabrani).

Nauzubillah min zalik
__________________


.


Comments