MEMBUMIKAN NILAI-NILAI RAMADHAN DAN HARI RAYA


Ramadhan telah berlalu, bulan penuh hikmah, barokah, kebaikan dan manfaat. Terhadap hal ini, setiap orang menafsirkannya dari sudut pandang masing-masing, yang dipengaruhi oleh pemahaman dan “kematangan” berpikirnya. Ada yang pemikirannya “cenderung” menganggap bahwa ramadhan adalah momuntem untuk mengumpulkan pahala demi kehidupan kelak di akhirat.  Karena cenderung untuk bekal masa depan, maka korelasinya dengan kekinian (interaksi sosial kini) mungkin saja kurang menjadi fokus perhatian. Maka wajarlah jika konsep ibadah puasa sebagai upaya pengendalian diri belum terealisasi pada tatanan pragmatis. Kita mungkin masih saja akan menampilkan gaya atau prilaku yang menunjukan diri yang tak “terkendali”.

Seiring kematangan berpikir kita akan menyadari, bahwa berpuasa, nilai tertingginya, "bertakwa", justru setelah terkonversi pada prilaku, tak terbatas pada waktu ramadhan. Maka atas prilaku dari waktu kewaktu itulah nilai puasa (after conditioning) diakumulasikan. Lalu apakah resultan nilainya setara untuk meraih derajat takwa? Jawabannya justru kembali mengundang tanya: “apakah orang yang bertakwa akan merasa bahwa ia bertakwa?” Lalu, apakah orang yang "bertakwa” itu tahu tentang ketakwaan orang lain?

Kita hanya diharuskan berupaya secara terukur untuk bersikap dan berprilaku sesuai dengan definisi takwa, mengacu pada batasan illahiyah dan prilaku yang dicontohkan oleh Rasul Nya. Sedang capaian dari upaya yang kita lakukan, nilai absolutnya hanya bisa kita ketahui saat buku nilai dibagikan. Namun demikian nilai simpangan (relatif) gambarannya mungkin bisa diketahui dengan mempelajari prilaku yang dijadikan acuan.

Bersalaman Hari Raya Simbol Saling Memaafkan

Pada hari raya idul fitri, bersalaman seolah rangkaian dari proses akhir dari ibadah puasa dan shalat id.  Maka jika mengacu pada awal mulai bersalaman, mungkin kita bisa memaknai bersalaman hari raya ini sebagai ungkapan saling memaafkan. Dengan tangan terbuka, tidak mengepalkan tangan karena marah, dendam,  tidak juga sedang menggenggam senjata.

Bersalaman diperkirakan sudah dilakukan sejak Abad ke-5 SM. Sejumlah artefak arkeologi menunjukkan bahwa kebiasaan itu. Dipraktikkan pada era Yunani Kuno, kala itu, jabat tangan adalah simbol damai, menunjukkan bahwa mereka sedang tidak membawa (menggenggam) senjata. 
Jaman Romawi Kuno bersalaman tak hanya sebatas telapak tangan, melainkan saling memegang lengan masing-masing.
Sedangkan para ksatria pada Abad Pertengahan diduga mempopulerkan salaman sambil mengguncangkan tangan lawan bicara kuat- kuat. Konon, itu adalah cara untuk mengeluarkan senjata tersembunyi di bagian lengan.

Wisata Pada Hari  Raya

Pantai merupakan salah satu objek wisata yang ramai dikunjungi pada hari raya. Para pengunjung akan melihat salah satu nasihat (pengingat) dari apa yang ditampilkan oleh laut, yakni buih yang mengambang. “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. ... Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya... Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”.  QS.13:17.


Rasulullah SAW: “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung..... .” (HR Abu Dawud 3745)

Buih adalah sistem koloid dengan fase terdisperasi umumnya berupa udara atau karbondioksida dengan medium pendisperasi zat cair. Buih merupakan gelembung-gelembung udara yang sangat ringan hingga terapung pada prmukaan air dan mudah bergerak ke mana saja oleh tiupan angin.

Jika "pikiran" kita ibaratkan air (medium pendispersi) lalu kedalam pikiran itu terdispersi “udara”, sebagai sesuatu yang kosong, tak bernilai, namun memenuhi ruang pikiran, hingga nilai-nilai kebenaran seolah tak mendapat ruang lagi di dalam pikiran. Maka ketika ini terjadi maka begitu mudah kita ditiup angin, begitu mudah dikendalikan oleh mereka yang memanfaatkan besarnya kuantitas demi tujuan yang tidak benar. Kondisi ini sudah diperingatkan oleh pembawa risalah Nabi SAW, dan laut yang kita kunjungi selalu mengingatkan akan hal ini.  

Puncak juga merupakan tempat yang menarik dikunjungi (tak terkecuali pada hari raya), suasana sejuk di puncak atau pegunungan merupakan daya tarik untuk dikunjungi. Alam telah mendisain sedemekian rupa, makin tinggi satu daerah dari permukaan laut udaranya semakin sejuk, demikian di daerah puncak dan pegunungan. Ini seakan mengajak kita untuk berpikir, apakah juga berlaku: semakin tinggi akhlak sesorang, semakin tinggi derajat takwa seseorang, semakin tinggi ilmu seseorang ia akan memberikan kesejukan pada lingkungan di sekitarnya?

Semoga Allah SWT memberikan kesempatan untuk kita mengikuti puasa Ramadhan dan idul Fitri dimasa mendatang.
 ______________

Penulis: emris


Artikel Lain

Puasa dan Teori Pengkondisian
Mahkamah Konstitusi 
 


Comments