Politikus Tiupkan Angin Panas, Ibrahim Tak Terbakar
Angin Panas (Fohn)
Angin panas atau sering dinamakan angin fohn, di Amerika dinamakan Chinook (pemakan salju). Angin ini terjadi ketika awan yang naik
pada lereng sebuah gunung dengan ketinggian (misal) 3000 m dpl. Awan tersebut
mengalami kondensasi lalu berubah menjadi butiran air hujan. Saat uap air
berubah menjadi air (butiran hujan) maka saat bersamaan terjadi pelepasan kalor
(panas), aliran angin panas pada gambar ditunjukan oleh garis merah. Jika suhu udara di puncak gunung (misalnya) 20 oC oleh
adanya pelepasan panas, lalu berapa suhunya pada ketinggian 0-100m dpl?
Jika tiap kenaikan ketinggian 100 m dpl suhu udara turun 0,6 oC,
maka sebaliknya, angin yang turun dari puncak gunung akan mengalami kenaikan
suhu 0,6 oC tiap turun 100 m. Maka suhu angin dari puncak (20 oC)
yang meluncur ke kaki gunung akan menjadi lebih panas saat berada di kaki
gunung. Suhu tersbut akan menjadi 20oC + (0,6 oC /100m x
3000m) = 38 oC.
Peristiwa angin fohn inlah yang terjadi pada lereng gunung tepatnya di Desa
Bahorok, Sumatra Utara. Lalu angin panas itu dinamai sebagai angin bahorok.
Angin ini dikenal karena merusak tanaman tembakau di lereng gunung tersebut
akibat suhunya yang panas.
Panasnya Suhu Politik
Politik Indonesia jelang dan pasca Pilpres tak ubahnya fenomena alam angin bahorok ini. Ketika Elit Politik di “atas” memantik
suasana menjadi panas, berdampak pada tingginya suhu politik di akar rumput, tensi politik di “bawah” meningkat jauh lebih panas,
bahkan acapkali dikonversi menjadi pembakaran yang terjadi pada aksi
demontrasi.
Kisah Ibrahim AS.
Pada beberapa kisah dalam Al Quran, Ibrahim dikisahkan sebagai sosok yang selalu
memerankan logikanya untuk menemukan hakikat kebenaran. Walau ia harus berbeda
pendapat, dan berbeda keyakinan dengan masyarakat pada saat itu. Bahkan beliau berani
bersebrangan dengan keyakinan Bapaknya, dengan pembesar-pembesar kaumnya, juga nenek
moyangnya. Bahkan Dengan keberaniannya “memperolok” logika keyakinan masyarakat
pemuja berhala kala itu.
(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada
bapaknya dan kaumnya: "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun
beribadat kepadanya?" Mereka menjawab: "Kami
mendapati bapak-bapak kami menyembahnya." Ibrahim berkata:
"Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang
nyata.".... (lalu dalam hatinya) Ibrahim: Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan
tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong,
kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka
kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: "Siapakah yang
melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk
orang-orang yang zalim." Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang
pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim ." Mereka berkata: "(Kalau demikian)
bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka
menyaksikan." Mereka bertanya: "Apakah kamu, yang melakukan
perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?" Ibrahim menjawab:
"Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah
kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara."... Maka mereka telah
kembali kepada kesadaran dan lalu berkata: "Sesungguhnya kamu sekalian
adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)", kemudian kepala
mereka jadi tertunduk (lalu berkata):
"Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala
itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata: Maka mengapakah kamu
menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun
dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?".....Mereka berkata:
"Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar
hendak bertindak." Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan
menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim".... Dan Kami seIamatkan Ibrahim dan
Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. QS.21:52-71
Inspirasi
Kisah Ibrahim menginspirasi,
kita sebagai umat akhir jaman yang tidak mungkin lagi mendapat mukjizat seperti
Ibrahim AS, bagaimana ia merasa tetap sejuk di tengah kobaran api? Namun ada sesuatu
seolah bisa dijadikan tuntunan dan pelajaran, karena memang itulah fungsi Al
quran sebagai penuntun kehidupan di segala zaman. Mungkin kita bisa menarik
benang merah dari Nabi Ibrahim, kisah beliau yang menonjol adalah mengutamakan
peran logika saat mencari Tuhan:
Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim
tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami
memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin. Ketika malam telah
gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”,
tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada
yang tenggelam”. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata:
“Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata:
“Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku
termasuk orang yang sesat”. Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia
berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu
terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa
yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang
menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan
aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan” (QS. Al An’am:
75 – 79).
Belajar Dari Kisah Ibrahim
Kisah selanjutnya adalah ketika Ibrahim AS
dibakar, sesaat setelah beliau “menyentil” logika kaumnya untuk membangun
kesadaran meninggalkan penyembahan atas berhala, dan inilah yang beujung pada
“pembakaran” atas dirinya. Dan ketika api dirasakan dingin oleh Ibrahim, peristiwa ini seperti mengajarkan kepada
kita, bahwa angin panas yang dihembuskan oleh elit politik dari “atas”, tidak
akan mampu “membakar” kelompok masyarakat di “bawah”, jika masyarakat di
bawah terbiasa menyertakan peran logika yang benar ketika menyikapi segala permasalahan,
termasuk masalah politik. Inilah yang akan menciptakan suasana tetap sejuk
ditengah upaya kelompok tertentu mengobarkan api permusuhan melalui hoaks dan
fitnah. Kelompok yang terus berupaya menaikan suhu politik demi menyulut dan membakar emosi masa, dengan harapan terjadi kekacauan hebat, meluluhlantahkan ikatan persudaran, pertemanan, persatuan
sebagai bangsa. Situasi seperti ini yang dikehendaki kelompok tersebut, mereka berpikir pada kondisi inilah dapat mengambil manfaat untuk mencapai tujuan mereka.
Naudzubillah min dzalik
____________________ Penulis: Emris Artikel Lainnya: Logika Memahami Sumber Kebenaran MRT Jakarta |


Comments
Post a Comment