Terlepasnya Kotoran Saat "Berubah" Menjadi Uap



Sejenak kita membayangkan roman muka bumi. Diantaranya: gunung,  lembah, sungai, dan laut. Pegunungan merupakan daratan yang menonjol lebih  tinggi dibanding sekitarnya, sementara laut merupakan bagian yang paling rendah tempat bermuaranya aliran-aliran sungai yang berhulu di pegunungan. Vegetasi penutup gunung butuh air untuk tumbuh. Lalu bagaimana menyiram vegetasi dengani air dari laut yang selain juauh juga asin? Berapa kubik dibutuhkan untuk menyirami hutan tropis yg luas itu? Moda transportasi apa yang bisa menjelajah pegunungan dengan beban air yang dibawanya?

Sungguh harmoni alam ini, tercipta dengan grand design sedemikian rupa, hingga tak membutuhkan campur tangan manusia untuk memenuhi keperluannya. Air dari lautpun atas tuntunan takdir dapat mengguyur, menhujani, mengairi pepohonan itu. bahkan air itu tidak lagi asin seperti ketika masih berada di laut.  

Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya? Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur? QS. 56:68-70.



Usai meghujani pepohonan, sebagian air tersimpan ditanah, sisanya kembali menuju lembah ke sungai lalu berkumpul lagi di pantai. Ada kekuatan yang terus menarik air cair itu untuk terus bergerak menuju tempat terendah yang bisa ia capai, kekuatan itu adalah kekuatan sang Khalik dan kita menamainya sebagai gravitasi. Dalam kecenderungannya mencari titik terendah, jika ada “kehendak” lain air bisa saja berubah wujud, menjadi air bentuk gas (uap), lalu alih-alih ia mendatangi tempat terendah, malah berbalik menuju titik tertinggi yang bisa ia capai, atmosfir (langit) untuk kemudian menjalankan tugasnya kembali menghujani pegunungan. 

Lalu apa yang mebuat air cair berubah wujud menjadi air berbentuk uap? Ini adalah hasil kerja energi dari sang Khalik dalam bentuk “panas”.
Btw, ternyata, ramadhan juga artinya “panas”. Kata “ramadhanberasal dari akar kata (bahasa Arab) ramiḍa atau ar-ramaḍ, yang berarti panas. 

Ketika air dipanaskan lalu berubah menjadi gas (uap) saat terjadi perubahan wujud, apapun yang tadinya terlarut pada air tersebut, ia kemudian melepaskan diri. Bahkan air laut yang asin, saat dipanaskan, asin (mineral) yang larut pada air tersebut memisahkan diri dan membentuk kristal, garam. Semua kotoran, warna, yang semula larut, terlepas. Dalam siklusnya ketika uap kembali menjadi cair (hujan), ia kondisinya menjadi “bersih nan suci” dari segala kotoran dan apa saja yang tadinya larut di dalamnya. Btw. ramadhan juga bisa berarti hujan. Ramadhan berasal dari kata dasar " Ramadiyu " yang berarti " hujan.

Ramadhan yang “memanaskan” jiwa, mungkin saja dapat memisahkan “kotoran” yang larut dalam jiwa, sehingga usai ramadhan jiwa-jiwa yang “bertakwa” itu kembali menjadi bersih nan suci. Seperti air kotor yang dipanaskan, menguap dan turun sebagai hujan yang bersih, suci dan mensucikan.

Akan halnya air, yang terus menjalani perjalan takdirnya, dengan rute (sederhananya): laut - langit (atmosfer) – gunung – sungai – laut, terus menerus membentuk siklus hidrologi. Pada perjalanan siklusnya itu ada kondisi ketika air tak bisa “menghindari” untuk melawati lingkungan yang dapat mencemari dan mengotori air tersebut. Namun air itupun akan kembali bersih saat ia berubah dalam wujud uap.

Bagaimana dengan jiwa yang “tercemar”? semoga ramadhan ini membersihkannya. Lalu dalam siklusnya, kembali tercemar setelah ramadhan. Adakah kesempatan memasuki ramadhan berikutnya tuk membesihkannya kembali? 


Shalat lima waktu. Ibadah Jum’at yang satu dengan ibadah jum’at berikutnya. Puasa Ramadhan yang satu dengan puasa Ramadhan berikutnya. Itu semua merupakan penghapus dosa antara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim)

Kecuali, sebelum ramadhan berikutnya, Izrail lebih dahulu menjemput pulang. Semoga Allah memberikan yang terbaik buat kita.
____________________________

Emris


Thank You Allah



Comments