Kisah merek rokok gudang garam

Keliling di kotaakota Kediri, eh lihat pabrik rokok gudang garam, lalu terlintas dalam pikiran, kenapa merek rokoitu ko gudang garam, bukan gudang tembakau, atau lainnya yg masih terkait dengan roko.
Ternyata pemberian nama merek itu diilhami oleh mimpi sang pemilik. Inilah kisahnya... 26 Juni 1958 silam, PT Gudang Garam Tbk Kediri ternyata bernama Tjap Ing Hwie. Label ini dipilih oleh sang pendirinya karena sesuai dengan namanya Tjoe Ing Hwie atau akrab dengan nama Surya Wonowijoyo. Tetapi karena diilhami oleh sebuah mimpi, akhirnya nama tersebut dirubah menjadi Tjap Gudang Garam.
Pernyataan itu disampaikan oleh penulis sekaligus peneliti sejarah Dukut Imam Widodo saat menjadi narasumber dalam acara gathering dengan awak media di kawasan wisata Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur. Dukut sengaja dihadirkan untuk memberikan wawasan kepada para jurnalis Kediri tentang penelitian sejarah berdirinya pabrik rokok PT Gudang Garam Tbk Kediri.
\"Di tahun 2018, Gudang Garam tepat usianya yang ke-60 tahun, kita bisa menghadirkan pak Dukut. Beliau banyak menorehkan karya, terutama menggali sejarah. Beliau cerita kepada saya sudah menggarap sejarah tentang Blitar dan Tulungagung. Beliau beberapa kali melakukan riset terhadap berdirinya Gudang Garam yang dilakukan sejak tahun 1970-an. Saya sendiri juga tertarik. GG sebagai aset Nasional dan Kediri khususnya, mohon doa teman-teman agar terus berkembang dan memberi kontribusi kepada semua,\" jelas Kepala Bidang Humas PT Gudang Garam, Ihwan Tri Cahyono dalam sambutannya.
Gathering bersama awak media merupakan agenda rutin PT Gudang Garam. Melalui kegiatan ini, Ihwan Tri Cahyono berharap bermanfaat bagi semua dan dapat mempererat hubungan kerjasama antar media dengan perusahaan. \"Dari kegiatan yang ada memberikan manfaat untuk semua. Semoga semakin mempererat hubungan baik kita semua,\" harapnya.
Sebagai narasumber, Dukut Imam Widodo menjelaskan hasil risetnya tentang sejarah berdirinya pabrik rokok PT. Gudang Garam. Penelitian tersebut sudah dikerjakan, sejak 1970 silam. Pabrik rokok ini didirikan oleh seorang pria asal Thionghoa yang merantau ke Indonesia bernama Tjoa Ing Hwie.
Migrasi masyarakat Thionghoa ini berlangsung, pada zaman Raja Airlangga. Ing Hwi). Diberi labet Tjap Ing Hwie, sesuai namanya.
Dua tahun berjalan, perusahaan tersebut masih berproduksi. Mimpi tersebut terulang kembali. Ing Hwie melihat ada bangunan sebuah gudang tempat penyimpanan garam. Ing Hwie semakin yakin bahwa mimpinya tersebut adalah sebuah petunjuk yang harus diwujudkan (ilham).
Keesokan paginya, Ing Hwie memanggil seorang karyawan bernama Sarman. Pekerja linting rokok ini memiliki kemampuan supranatural. Ing Hwie menceritakan tentang mimpinya tersebut. Ternyata Sarman juga memiliki keyakinan serupa bahwa mimpi tersebut adalah sebuah petunjuk bagi Ing Hwie. Akhirnya rokok Tjap Ing Hwie diganti menjadi Tjap Gudang Garam.
\"Setelah dua tahun berjalan Ing Hwie akhirnya mengganti nama perusahaannya menjadi Pabrik Rokok Tjap Gudang Garam dan inilah awal dari berdirinya PT Gudang Garam,\" jelas penulis Hikayat Surabaya Tempo Dulu, Malang Tempo Dulu, Monggo Dibadok, Sidoarjo Tempo Dulu dan Jember Tempo Dulu tersebut dalam presentasinya di hadapan para jurnalis.
Gudang Garam berdiri, pada 26 Juni 1958. Awalnya, pabrik tersebut hanya memperkerjakan sebanyak 50 orang karyawan. Sebagian pekerja berasal dari kawan lamanya. Produknya saat itu ada dua jenis yaitu, SKL dan SKT. Untuk daerah pemasarannya seputar Kediri, Blitar, Nganjuk dan Kertosono.
Seiring berkembangnya perusahaan, akhirnya lahan sewaan milik Muradioyo itu kemudian dibeli oleh Ing Hwie. Bangunan di lahan tersebut lalu diberi nama Unit 1. Lalu bangunan lainnya diberi nama Unit 2 dan seterusnya.
Lalu, pada tahun 1971 dari status perusahaan berbentuk Persekutuan Firma (PF) akhirnya berubah menjadi Perseroan Terbatas (PT). Produknya terus berkembang hingga lahir rokok Sigaret Kretek Mesin (SKM). Sementara Tjoe Ing Hwie atau yang lebih akrab dengan nama Surya Wonowiyono (berarti : matahari menyinari hutan yang subur) akhirnya meninggal dunia di usianya yang ke-68, pada 29 Agustus 1985.
Dalam riset Dukut Imam Widodo ini juga dijelaskan bahwa sosok Tjoe Ing Hwie sangat Njawani. Karena dia juga berpedoman pada falsafah orang Jawa. Maka dia terkadang dipanggil dengan sebutan Babah Ing Hwie atau pak Surya. Kemudian dalam dia mempelajari betul Pitutur Luhur Budaya Jawa. Nilai-nilai kearifan lokal, dimana Kediri sebagai Pitutur Luhur Budaya Jawa, yang mengilhami adanya Tjatur Darhama Perusahaan atau empat tanggung jawab yang diberlakukan hingga saat ini. [nng/suf]



         

KOMENTAR
KANAL EKONOMI

Home   •  Peristiwa   •  Politik & Pemerintahan   •  Hukum & Kriminal   •  Ekonomi   •  Olahraga   •  Gaya Hidup   •  Pendidikan & Kesehatan   •  Teknologi   •  Berita Migas   •  Indeks




Comments