RAPUH: Kesetiaanpun Seperti Terbiaskan
Tulisan ini bukanlah tafsiran atas bait-bait lirik lagu rapuh, tulisan ini hanya mengungkapkan yang terlintas dalam pikiran yang terinspirasi setelah menyimak bait demi bait lantunan rapuh... (lagunya dpt diputar di bag. bawah tulisan ini).
Detik waktu terus berjalan
Berhias gelap dan terang
Suka dan duka, tangis dan tawa
Tergores bagai lukisan
Apa yang kita alami dalam hidup, kisah gelap dan terang, suka ataupun duka, yang kesannya begitu kuat, seolah tergores bagai lukisan dalam Long Term Memory (LTM) kita.
Dan ini akan terus berlangsung, LTM terus merekam jejak peristiwa detik demi detik
selama kita menyadarinya. Suka, duka, tangis dan tawa, terang dan gelap, lekat seolah “menghias”
perjalan hidup.
Seribu mimpi, berjuta sepi
Hadir bagai teman sejati
Di antara lelahnya jiwa
Dalam resah dan air mata
Kupersembahkan kepada-Mu
Yang terindah dalam hidupku
Acapkali kita membangun mimpi, lalu disadari atau tidak, beberapa
diantaranya tumbuh menjadi sebuah harapan. Namun seringnya antara harapan dan
kenyataan terkendala ruang pemisah yang
begitu menganga. Ada selisih antara harapan dan kenyataan. Dan
ini begitu akrab terjadi, sering datang dan hadir bak teman sejati. Keadaan ini terkadang membuat jiwa menjadi lelah, hati menjadi resah,
bahkan tak disadari dalam sepi air matapun turut menghiasi. Lalu segala rasa: keresahan tadi kita kemas,
kita persembahkan kepada yang maha indah, atas keyakinan Ia kan mengubah keresahan, duka lara dan air mata, menjadi
kebahagian yang penuh keindahan. Ia akan memberi obat penawar atas segala resah
dan gelisah, pada saatnya.
Meski kurapuh dalam langkah
Kadang tak setia kepada-Mu
Namun cinta dalam jiwa
Hanyalah pada-Mu
Maafkanlah bila hati
Tak sempurna mencintai-Mu
Dalam dada kuharap hanya
Diri-Mu yang bertahta
Atas kurangnya pemahaman, ketidak mengertian akan hakikat hidup, seringkali
kita mengambil langkah, bersikap, atau bertindak atas argumentasi yang rapuh,
argumentasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Lalu kita terbias, menjauhi
garis normal, seakan tak setia kepada Nya, tak setia pada aturan dan kehendak
Nya.
Syukur alhamdulillah bahwa cinta akan kebenaran, kebenaran akan ketauhidan, tidak dibangun di atasa argumentasi, melainkan telah ditiupkan-Nya melalui
jiwa atas kerahiman-Nya, bahkan jiwa kita telah menyampaikan kesaksian
ketauhidan itu.
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari
sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya
berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul
(Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu)
agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam)
adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", QS. 7:
172.
Atas kesaksian jiwa yang suci itulah, maka fitrahnya manusia senantiasa
berharap bahwa di dalam dadanya hanya Allah lah yang bertahta. Allahlah yang yang
menjadi raja, yang berkuasa atas dirinya dengan penuh cinta.
Maafkanlah bila hati
Tak sempurna mencintai-Mu
Dalam dada kuharap hanya
Diri-Mu yang bertahta
Meski kurapuh dalam langkah
Kadang tak setia kepada-Mu
Namun cinta dalam jiwa
Hanyalah pada-Mu
Maafkanlah bila hati
Tak sempurna…
Akan halnya cinta, kesempurnaannya akan kita temukan manakala kita
mendapatkan cinta dan kasih sayang-Nya. Karena hanya atas kasih sayang Nya lah,
hati merasa damai, hidup terasa indah dan saat kembali kepada Nya jiwa dalam
keadaan tenang. Bukankah esensi cinta itu adalah hasrat akan keindahan, ketenangan dan kedamaian?
Kesempurnaan cinta itu, ketika Allah berseru pada jiwa kita: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas
lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke
dalam syurga-Ku”.
Qs.89 :27-30
Dengan demikian kesepurnaan cinta kita peroleh, hanya jika kita mencintai
Allah yang maha penyayang, lalu Allah yang maha penyayang itu mencintai kita sebagai hamba yang selalu membutuhkan cinta dan kasih sayang Nya. Lantas bagimana cara mencintai Allah sehingga kita
mendapat kasih sayang Nya?
”Sayangilah yang ada di bumi, niscaya Yang ada di langit akan menyayangimu.”
(HR. At Thabrani).
“Sesungguhnya Allah menyayangi hamba-hamba Nya
yang penyayang“ (HR Bukhari Muslim).
Maka sempurnalah gelar muttaqin, yang inyaallah diraih saat ramadhan lalu menggenapkannya dengan menebar kasih sayang sesama hamba-hamba-Nya.
Selamat Iduli fitri 1 syawal 1440 H. Mohon maaf lahir dan batin.
Ingatan Tersimpan di Otak LTM

Comments
Post a Comment