Pariwisa, Hospitality dalam Islam
Dalam buku“Tthe World's Largest Industry“, John Naisbitt (penulis,
dintara bukunya: Megatrends, Global Paradox, dll.) menuliskan: “Industri paling besar di dunia
adalah pariwisata”. Negera kita yang dianugerahi bentang alam mempesona, aneka
flora dan fauna, warisan budaya yang kaya, menjadikan sektor pariwisata dapat andalkan
untuk mendukung kekuatan perekonomian bangsa.
Hasil riset Wolrd Bank, sektor pariwisata adalah
penyumbang yang paling mudah untuk devisa dan pendapatan domestik bruto (PDB)
suatu negara. Kenapa? karena, dampak turunan (multiple efek) dari investasi
sektor pariwisata terhadap PDB memang amat besar. World Bank mencatat investasi
di pariwisata sebesar US$ 1 juta mampu mendorong 170% dari PDB. Ini merupakan
dampak ikutan tertinggi suatu industri kepada negaranya. Sebab, industri
pariwisata mampu menggerakkan usaha kecil menengah seperti kuliner,
cenderamata, transportasi dan lainnya.
Power & Performance New Report melihat kinerja dari
185 negara selama periode tujuh tahun yaitu sejak 2011 - 2017. Indonesia dinilai sebagai salah satu dari 20
negara dengan pertumbuhan paling cepat di sektor pariwisata. Pertumbuhan
pariwisata Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mencapai 25,68%. Sedangkan
industri pariwisata di kawasan Asia Tenggara tumbuh 7% dan dunia berkembang 6%.
BPS mencatat Januari–Maret 2019, jumlah wisman mencapai
3,82 juta. Tahun 2018 tercatat 15,81 juta atau naik 12,61 persen dari 2017 yang
berjumlah 14,04 juta. bertambahnya wisman berdampak pada devisa. Saat ini,
penyumbang devisa terbesar minyak kelapa sawit, pariwisata, migas, dan batu
bara. Sektor pariwisata hanya kalah dari minyak sawit mentah (CPO). Tahun
2017 pariwisata menyerap devisa 16,8 miliar dollar AS. Di masa datang sektor
pariwisata diprediksi akan menyumbang devisa terbesar. Untuk tahun 2019 ini
pemerintah menargetkan sektor pariwisata menghasilkan devisa Rp. 250 triliun.
Tulisan ini, tidak hendak membicarakan terkait pencapain
target devisa dan kunjungan wisman
(wisatawan mancanegara). Tulisan ini hanya terinspirasi dari data-data
yang ditampilkan, lalu berpikir bagaimana masyarakat “di bawah” yang bersinggungan
dengan sektor pariwisata, bisa memperoleh manfaat yang signifikan. Dalam hal
ini wisata lokal dengan pengunjung lokal (setidaknya AKAP: Antar Kota Antar Provinsi). Terutama saat libur hari
raya idul fitri, kita bisa melihat betapa antusias masyarakat untuk mengunjungi
obyek-obyek wisata begitu semarak. Kondisi ini, diantaranya, didkung kemajuan
pembangunan infrastruktur, bagian penting mensuport pengembangan dan kemajuan
sektor pariwisata.
Beberapa refernsi mencatat Indonesia pernah mengalami
masa emas perkembangan pariwisata yaitu tahun 1995 dengan penghasil devisa
terbesar, sekitar 15 miliar dollar AS, ketika itu ekspor kayu, tekstil, dan
migas turun. Namun pasca tahun 1998, sektor pariwisata ini menurun signifikan
karena dampak gejolak sosial politik dalam negeri. Kunjungan wisman menurun
drastis dan makin diperparah adanya travel warning beberapa negara untuk
kunjungan ke Indonesia.
Dari apa yang terjadi pasca 1998 yang menerpa sektor
pariwisata hendaknya dijadikan pelajaran berharga bagi dunia priwisata. Anugrah
pesona alam yang memikat, warisan budaya yang menarik, sulit untuk dinikmati
karena adanya gangguan dari sisi keamanan dan kenyamanan.
Hospitality
Hospitality adalah bagian dari daya tarik pengunjung.
Keramahan penduduk setempat, kenyamanan berinteraksi, yang bermura pada nilai
kepuasan pengunjung. Hospitality dari kata Host yang berarti tuan rumah. Pada
masa Yunani Kuno, tuan rumah senantiasa menyambut tamu dengan ramah.
Mempersilakan makan dan menjamu mereka setara dengan Zeus (Pimpinan para dewa
dalam mythology Yunani). Mengingat pentingnya hal ini bagi kelangsungan dan
kemajuan dunia (bisnis) terkait pariwisata, kini hospitality dipelajari dalam
sebuah program pendidikan yang berorientasi pada kepuasan pelanggan atau
pengunjung.
Bagi masyarakat religi (apapun agamanya) bisa diyakini
ada tuntunan bagaimana menciptakan interaksi yang baik antar sesama. Konsep interaksi sosial dalam islam juga mendapat
perhatian cukup penting. Anjuran memuliakan tamu, merupakan konsekuensi atas
pengakuan keimanan kepada Allah SWT dan keimanannya kepada hari akhir. “Barang
siapa yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan
tamunya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Inilah diantaranya konsep hospiltality pada masyarakat
muslim, yang jika dilaksanakan dengan baik oleh semua pihak terutama yang terkait
sektor pariwisata mulai dari masyarakat setempat, tukang parkir, penjual oeh-oleh, cinderamata, rumah makan,
dan seterusnya, yang pada pelaksanaannya dilandasi atas keimanan dan ketakwaan.
Maka sektor pariwisata ini bisa menjadi ladang perekonomian yang membawa berkah.
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut
beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari
langit dan bumi, .....”
(QS: Al-A’raf: 96)

Comments
Post a Comment