Ramadhan Dan Self Control


Setelah beberapa hari berpuasa maka sikap “berpuasa” diharapkan kini menjadai behavior. Puasa yang pada tahap awal berlatih mengendalikan diri (self control) untuk mengakses basic needs, lambat laun mampu mengendalikan mental-spiritual secara keseluruhan. Kemampuan mengendalikan reaksi diri atas aksi berupa stimulus baik terhadap fisik ataupun psikis. Maka kemampuan pengendalian diri ini pada gilirannya akan menjadi pelindung diri dari prilaku yang tidak dibenarkan dalam makna takwa.  
  
Puasa itu bagaikan perisai (pelindung), maka apabila seseorang kamu berpuasa, jangan berkata kotor dan jangan berkata kasar. Jika seseorang mencacinya atau menyerangnya maka hendaklah dia mengatakan. Aku ini puasa.’ (Sahih Bukhari).

Pedoman Pengendalian Diri


"Ilmu tanpa Agama Buta, Agama Tanpa Ilmu Lumpuh". Demikian ungkap Albert Einstein, seorang ilmuwan terbesar pada abad ke-20.

Ilmu dan Agama merupakan pedoman pengendalikan diri, dan filsafat yang mendasari ilmu dan agama tersebut teraktualisasi pada ranah pragmatis. Pada prespektif pengetahuan, ilmu, agama dan filsafat ketiganya merupakan pengetahuan. Yang membedakannya adalah sumber pengetahuan dan cara mendapatkan pengetahuan tersebut.

Pengetahuan yang diperoleh melalui metode ilmiah dinamakan dengan pengetahuan ilmu. Lalu selanjutnya kita menyebutnya sebagai ilmu pengetahuan atau ilmu. Metode ilmiah adalah satu cara untuh mendapatkan pengetahuan dengan cara: merumuskan masalah, membuat hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis, lalu merumuskan kesimpulan. Dari kesimpulan yang telah dirumuskan tersebut kebenarannya dapat diuji berulang-ulang dan dengan kondisi yang sama kapan dan dimanapun, akan menghasilkan kesimpulan yang sama.

Pengetahuan yang diperoleh dan bersumber dari firman Tuhan, inilah yang disebut sebagai pengetahuan agama, atau sering disebut ilmu agama.

Sedang pengetahuan yang didapatkan dengan cara berpikir radikal, berpikir mendalam, yang terdorong oleh kecintaan pada kebenaran dan cinta pada kebijaksanaan, inilah yang dinamakan pengetahuan filsafat. Lalu sering disebut sebagai flsafat saja. Ffilsafat berasal dari bahasa Yunani philosophia yang terdiri dari philia (cinta) dan sophia (kebijaksanaan, kearifan). Jadi, filsafat dapat diartikan sebagai “cinta kebijaksanaan”. Pengetahuan filsafat adalah pengetahuan yag berasal dari pemikiran mendalam atau atas kontemplasi seorang “filsuf”.


Filsafat Ilmu

Filsafat ilmu adalah cabang filsafat yang mempelajari dan menjawab berbagai pertanyaan terkait hakikat ilmu, dan penerapan berbagai metode filsafat dalam upaya mencari akar persoalan dan menemukan asas realitas yang dipersoalkan oleh bidang ilmu tersebut untuk mendapatkan kejelasan.
Keberadaan filsafat dapat membantu permasalahan dalam berbagai bidang kehidupan. Setiap orang yang mempelajarinya diharapkan: 
  1. Menjadi lebih terdidik dan memiliki pengetahuan, serta mampu menilai hal-hal di sekitarnya secara objektif.  
  2. Menjadi lebih bijaksana dalam menjalani kehidupannya. 
  3. Memiliki pandangan yang luas dan terhindar dari sifat egoisentrisme. 
  4. Dapat berpikir sendiri, memiliki pendapat sendiri, mandiri secara rohani, dan dapat bersikap kritis. 
  5. Dapat mendalami unsur-unsur pokok ilmu sehingga dapat memahami sumber, hakikat, dan tujuan ilmu. 
  6. Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan, dan kemajuan ilmu pengetahuan di berbagai bidang. 
  7. Memiliki pedoman dalam mendalami suatu ilmu pengetahuan, khususnya untuk membedakan persoalan ilmiah dan non-ilmiah. 
  8. Termotivasi untuk mendalami dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Lalu Bagaimana  Orang  Yang Tidak Memiliki Pengetahuan?

Tanpa pengetahuan yang dimilik sulit melakukan self control dengan baik. Pada kondisi ini lingkungan akan mendominasi control terhadap dirinya. Bahkan ketika ia hanya memiliki pengetahuan agama saja, ilmu saja, atau filsafat saja, pun tetap tidak bisa mengendalikan diri dengan baik. Pada kondisi ini maka self control baru pada tatanan basic need saja. Ketika perisai belumlah sempurna maka rentan terjebak pada "taklid buta" yang bisa membahayakan, dan dalam menemukan kebenaran cenderung memilih kebenaran performatif atau "figur yang ditokohkan" . Inilah yang kemudian menjadikan pribadinya (secara mental) belumlah menjadi pribadi yang merdeka. "Janganlah taklid kepada siapapun dalam urusan agama, apa saja yang datang dari Nabi SAW. dan para sahabatnya ambilah, adapun terhadap orang sesudah Nabi dan para shahabatnya (tabi’in) seseorang boleh memilih pendapatnya.” [Abu Dawud dalam Masaa`il al-Imam Ahmad (hlm. 276-277)].

Ramadhan Momentum "iqro"

17 Ramadhan awal ditrunkannya Al-Qur'an kepada Nabi SAW, saat beliau merenung (kontemplasi) di Goa Hiro, Jabbal Nur.  Maka mengisi Ramadhan dengan menggali pengetahuan dari Al-Quran adalah momen yang baik. Dan patut pula direnungkan: membaca Al-Quran dengan cepat berakhir dengan khatam, mempelajari dengan teliti berakhir dengan Paham.

Renungan:

“...dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya". QS.10: 100.


“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”  QS.17:36


“Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah dengan ilmu, barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah dengan ilmu, barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka hendaklah dengan ilmu”. Imam asy-Syafi’i

_________________________

Penulis: Emris


Topik terkait:
Teori Kebenaran

Al Waqiah

Comments